Disibukkan dengan berita sosmed

 Salah satu nasehat yang sangat menyentuh dan berharga sekali buat kami hari ini dalam acara dauroh tadabbur Al Qur'an buah pena Syaikh Dr shalih Fauzan Al Fauzan Hafizhahullahu Ta'ala yang di sampaikan oleh beliau ustadz Muhammad Zaim Salahuddin Lc Hafizhahullahu Ta'ala mundir Raudhatul Qur'an 1 Klaten di masjid jami' pesantren gratis klaten 

" di zaman fitnah seperti ini kita jangan terlalu menyibukkan diri kita dengan berita berita sosmed yang kita tidak punya filter karena akan mengurangi keberkahan waktu kita, lebih baik kita sibukan baca Al Qur'an yang lebih berfaedah dan mendapatkan pahala dan Fadilah yang luar biasa "


WAJIB MENDENGAR & MENTAATI PEMERINTAH (KECUALI DALAM KEKUFURAN)
Ustadz Ammi Nur Baits حَفِظَهُ الله تعالى 
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم 
Menentang pemerintah dan tidak tunduk kepadanya adalah suatu yang utama bagi mereka (masyarakat jahiliyah), bahkan sebagian di antara mereka ada yang menjadikan sikap tersebut sebagai agama. Maka Nabi ﷺ menentang mereka dalam masalah tersebut dan memerintahkan mereka untuk bersabar menghadapi kezhaliman para penguasa, dengan mendengar dan taat serta memberikan nasihat kepada mereka. Bahkan Nabi ﷺ bersikap keras dalam masalah ini, sehingga menjelaskan dan mengulang-ulang tentangnya. 

Dalam hadits riwayat Bukhari (7056) dan Muslim (1709), dari Junadah ibn Abi Umayyah beliau berkata, “Aku masuk ke rumah Ubadah ibn Shamit dan beliau sedang sakit, aku berkata, ‘Semoga Allah membaguskan keadaanmu, ceritakanlah padaku sebuah hadits yang dengannya Allah akan memberimu manfaat, hadits yang engkau dengar dari Nabi ﷺ, maka beliau berkata :

عَنْ جُنَادَةَ بْنِ أَبِي أُمَيَّةَ قَالَ: دَخَلْنَا عَلَى عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ وَهُوَ مَرِيضٌ قُلْنَا: أَصْلَحَكَ اللَّهُ حَدِّثْ بِحَدِيثٍ يَنْفَعُكَ اللَّهُ بِهِ سَمِعْتَهُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: دَعَانَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَايَعْنَاهُ فَقَالَ فِيمَا أَخَذَ عَلَيْنَا أَنْ بَايَعَنَا: عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا وَأَثَرَةً عَلَيْنَا وَأَنْ لَا نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنْ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ”

“Nabi ﷺ  mengundang kami, lalu kami mengucapkan baiat kepada beliau dalam segala sesuatu yang diwajibkan kepada kami bahwa kami berbaiat kepada beliau untuk selalu mendengar dan taat, baik dalam suka maupun benci, sulitan maupun mudah, dan beliau juga menandaskan kepada kami untuk tidak mencabut suatu urusan dari ahlinya kecuali jika kalian melihat kekufuran secara nyata dan memiliki bukti yang kuat dari Allah.”

Dan kekacauan tidak akan pernah terjadi pada agama dan urusan umat manusia, kecuali karena munculnya kerancuan dalam menyikapi wasiat ini. Ini adalah prinsip Ahlus Sunnah, mentaati penguasa yang sah dalam perkara yang ma'ruf dan tidak mentaatinya dalam perkara yang mungkar. 

Ada beberapa hal yang melatarbelakangi pemberontakan kepada penguasa :
1. Dilandasi ideologi agama karena menganggapnya berpahala, ini adalah penyimpangan aqidah seperti Mutazilah & Khawarij
2. Dilandasi motivasi dunia (bughot), semisal protes terhadap kebijakan pemerintah, pelakunya tidak sampai tingkatan khawarij.
3. Dilandasi agama karena ijtihad yang bisa diterima, ini tidak termasuk dalam khawarij maupun bughot, semisal ketika perang jamal dan perang siffin.

Wallahu'alam Semoga bermanfaat
Barakallahu fikum

Baca juga





Tidak ada komentar:

Posting Komentar