JIKA KEHILANGAN ALLAH MAKA TIDAK ADA PENGGANTINYA...
Pelajaran ke-74 — Kitab ad-Dā’ wa ad-Dawā’
🔸 “Dunia hanyalah mimpi tidur atau seperti bayangan yang lenyap. Orang yang cerdas tidak tertipu oleh hal seperti itu.
Dan di antara hukuman terbesar adalah ketika seorang hamba melupakan dirinya, menelantarkannya, dan menyia-nyiakan bagiannya dari Allah; menjualnya dengan kerugian dan kehinaan serta harga yang paling rendah.”
➡ Maksudnya: banyak orang tertipu oleh kesenangan dunia yang fana, padahal itu hanya seperti mimpi yang sebentar.
Hukuman paling berat adalah ketika seseorang sibuk dengan dunia hingga lupa memperhatikan keselamatan dirinya dari azab Allah.
🔸 “Ia menyia-nyiakan Dzat yang tidak bisa digantikan oleh apa pun, dan menukar-Nya dengan sesuatu yang tidak berharga. Jika engkau kehilangan selain Allah, masih ada pengganti; namun bila engkau kehilangan Allah, maka tak ada pengganti untuk-Nya.”
➡ Allah bisa menggantikan semua yang hilang darimu, tapi tidak ada yang bisa menggantikan kehilangan hubungan dengan Allah.
🔸 “Allah سبحانه وتعالى dapat mengganti segala sesuatu, namun tak ada yang dapat menggantikan-Nya.
Ia mencukupi dari segala sesuatu, namun tak ada yang dapat mencukupkan dari-Nya.
Ia melindungi dari segala sesuatu, namun tak ada yang dapat melindungi darinya.
Maka bagaimana mungkin seorang hamba merasa cukup tanpa taat kepada-Nya walau sekejap mata?”
➡ Kalimat ini menunjukkan keagungan tauhid: hanya Allah satu-satunya tempat kembali dan bergantung.
🔸 “Bagaimana mungkin ia lupa berdzikir dan menyia-nyiakan perintah-Nya, hingga Allah membuatnya lupa pada dirinya sendiri — lalu ia pun menzalimi dirinya dengan sebesar-besarnya kezaliman. Ia tidak menzalimi Rabbnya, tapi menzalimi dirinya sendiri.”
➡ Ini sesuai dengan firman Allah:
"وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ"
“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang melupakan Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri.” (QS. al-Hasyr: 19)
🔸 “Di antara hukuman dosa: mengeluarkan hamba dari lingkaran ‘ihsan’ dan menghalanginya dari pahala orang-orang muhsinin. Karena jika ‘ihsan’ telah memenuhi hati, maka ia akan mencegah dari maksiat.
Siapa yang beribadah kepada Allah seakan melihat-Nya, itu karena dzikir, cinta, takut, dan harap telah menguasai hatinya sehingga ia seakan-akan menyaksikan Allah.”
➡ Inilah derajat ihsan — keadaan hati yang penuh muraqabah (merasa diawasi oleh Allah). Jika ini hilang, maka mudah sekali seseorang jatuh pada maksiat.
🔸 “Jika ia keluar dari lingkaran ihsan, maka ia kehilangan teman-teman istimewa dan kehidupan yang tenang serta kenikmatan sempurna yang mereka rasakan.”
➡ Orang yang meninggalkan ihsan akan kehilangan kedekatan dengan para ahli ibadah yang hidupnya tenteram dan manis karena kedekatan dengan Allah.
📖 Sumber:
ابن القيم – الداء والدواء (hal. 173–174)
🌿 Faidah:
- Barang siapa melupakan Allah, maka Allah akan membuatnya lupa pada dirinya sendiri.
- Dan siapa yang menjaga hubungan dengan Allah, maka Allah akan mencukupkan segala kekurangannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar